[ESCAPE] Gede Hore

9:42:00 PM

Mystic Gede

Beberapa waktu lalu saya diajak oleh teman saya namanya Bayu Ardiyanto untuk ikut naik gunung. Gunung Gede. Saya dengan murahannya menjawab iya iya saja. Ini kesempatan, mumpung ada yang mengajak. DI tengah tengah perjanjian, saya sempat ragu karena membaca di beberapa blog orang mengenai Gunung Gede yang (sepertinya) cukup sulit. Tapi kata Ucup (saya biasa memanggilnya begitu) Lebih baik saya menyesal saat berjalan naik daripada menyesal karena tidak ikut.
Oke. Kemudian saya segera mempersiapkan diri, meminjam beberapa kebutuhan dari teman, sleeping bag punya Baim temen SMA yang sekarang di ITB, cover bag punya Putra teman kantor. Sedikit menambah jam jogging kembali agar tidak merepotkan teman selama naik gunung gede besok. This is gonna be my first time!

Mendapatkan izin dari orangtua saya ternyata tidak susah. Namun secara tiba tiba Om saya yang kebetulan tinggal di Ciawi (kira kira 20km dari Cibodas) menelepon dan ingin ikut rombongan (sebagai syarat pendakian, karena tidak boleh mendaki sendiri). Om saya ini memang suka naik gunung sejak kuliah, dan kebetulan beliau mengenal orang dalam Taman Nasional Gunung Gede dan Pangrango jadi mudah untuknya mendapatkan Simaksi.

Here we go!

Jumat, 12 September 2014
Saya berangkat dari Bandung bersama teman saya Elpan (selanjutnya akan dipanggil Epan), kerja sebagai kontraktor di PP, Teknik Sipil UGM 2009. Kami berangkat pukul 6 dari daerah Dago (blame him, Epan terlambat satu setengah jam dari perjanjian) menggunakan bus Damri terakhir yang lewat menuju LeuwiPanjang. Menurut jadwal kami janjian bertemu dengan teman teman rombongan dari Jakarta dan beberapa dari Bogor jam 12 malam di Terminal Cipanas.
Saya dan Epan masih belum berangkat juga jam 9 malam dari terminal. Mulai resah, keburu ngantuk, udah bête nunggu Epan dari sore dan sebagainya sebagainya. Akhirnya kami jalan juga kira kira setengah sepuluh dari LeuwiPanjang dan sampai di Terminal Cipanas sekitar jam 1 pagi.
Kami bertemu dengan mbak Anna dan mas Jalu (anggota rombongan yang dari Jakarta (terpisah)) dan bertemu dengan Aci an Bule (rombongan dari Bogor), sementara Pak Ketua kelompok Ucup masih tertinggal di bus Jakarta karena ban bocor.
Beberapa waktu kemudian kami sudah berkumpul. Total sekitar 19 orang. Kebanyakan adalah teman teman yang bekerja di bidang Teknik. Sebagian teman teknik UGM, teman Bulaksumur Pos, dan sisanya teman kantor Ucup, teman Indah, teman Atmajaya, dan macam macam. Wow. Kemudian kami mencarter angkot 240rb untuk dua angkot untuk mengantarkan kami menuju Basecamp Abah Ahwar. Kami istirahat dan tidur sebentar di basecamp.

Sabtu, 13 September 2014
Sabtu subuh Om saya menyusul menggunakan motor menuju basecamp. Kami bersiap, sarapan, dan mengemasi bahan bersama disebar ke beberapa tas. Sekitar pukul 7 Om saya dan Mas Adi (temannya yang bekerja sebagai ranger Taman Nasional) naik terlebih dahulu. Disusul oleh rombongan cowok cowok Atmajaya dari geng Bang Satria.
Sisanya, Ucup, saya, Epan, Indah, Mbak Anna, Mas Jalu, Bule, Aci, Risa, Fahmi, mulai naik pukul 8. Rupanya jalur pendakian Gunung Putri cukup ketat, karena diperiksa bawaannya, tidak boleh membawa bahan bahan kimia yang bisa bercampur dan merusak alam seperti sampo,sabun, odol (kalau bawa disita), dan tidak boleh menggunakan sandal gunung (harus bersepatu).
Ucup, Indah, Mufid, dan Bule membuat surat pernyataan terlebih dahulu karena mengenakan sandal gunung.
Kami naik. Di awal awal sawah (kata Ucup memang biasanya sawah), kemudian melewati sungai, sampai akhirnya kami masuk hutan. Perjalanan mulai berat. Kami beberapa kali istirahat sampai akhirnya rombongan sedikit terpisah menjadi beberapa kelompok. Saya sendiri hampir selalu bersama Ucup dan Epan di agak depan setelah rombongan cowok cowok Atmajaya tadi.
Di pos ke tiga kami beristirahat dan membuat sedikit teh hangat, Aci mengeluarkan alat masaknya untuk memasak air. Saya memilih untuk tidur sebentar karena kecapekan hari Jumat di jalan menuju Cipanas. FYI jalur menuju Gunung Gede via Gunung Putri memang menanjak sekali. Sekitar 10 – 15 menit kami melanjutkan perjalanan. Kami tidak menemui pos pos lagi karena ternyata memang jaraknya sangat jauh. Ucup sudah mulai lapar, jam sudah menunjukkan pukul 1 siang.
Kami akhirnya beristirahat sebentar di suatu tempat di mana kami akhirnya bertemu geng Atmajaya tadi yang baru selesai beristirahat. Kemudian kami berjanji bertemu di Surya Kencana yang (katanya) tinggal sedikit lagi.
Setelah sekitar setengah jam sampai satu jam berjalan, (jalan sudah tidak banyak naik) finally! Setelah sekitar 5 – 6 jam perjalanan, vegetasi mulai terbuka dan kami bertemu dengan hamparan luas padang edelweiss. Segera saya, Ucup, dan Epan mencari kelompok Bang Satria dan terduduk sambil melihat lihat sekitar, berfoto sedikit sambil melepas lelah sekaligus menunggu anggota kelompok lain.

Padang rumput dikelilingi Edelweiss


Edelweiss mekar
Tidak berapa lama kemudian anggota kelompok sudah lengkap dan kami pun berjalan kembali menuju sebelah barat dari Surya Kencana untuk lebih dekat dengan sumber air dan jalur penanjakan. Kami memang belum tiba di puncak, Surya Kencana sendiri adalah tempat yang biasa digunakan pendaki (dari arah Gunung Putri) untuk kemping sebelum melanjutkan pendakian ke puncak esok hari.
Kami memilih milih lokasi untuk berkemah dan segera memasang tenda kami. Tidak usah khawatir karena Surya Kencana ini sungguh sangat luaaaaas sekali. Bersyukur sekali karena bunga edelweiss sedang mekar mekarnya di sekitar kami.
Setelah selesai mendirikan tenda dan sedikit melepas lelah, kami yang kelaparan mulai mengeluarkan bahan bahan makanan dan memasak. Saya yang tidak begitu bisa memasak hanya sedikit membantu. Menunya adalah mie goreng, nasi, tempe goreng, sayur tumis sawi, kami makan bersama sama di dalam tenda, karena kami sepakat kedinginan.
Yes it is that oh-so-cold! :”)

Tempat kami kemah

Hampir senja
Kemudian setelah merapih rapihkan alat makan (yang tidak bisa dicuci jadi hanya di lap lap menggunakan sedikit air (hemat air) dan tisu) kami mulai bersiap tidur. Ohya, kami buang air kecil di balik semak semak edelweiss. Hoho. Malam pun mulai tiba, senja nya cantik sekali di balik edelweiss edelweiss dan tepat di depan tenda kami berdiri sedikit ujung Gunung Gede.
Bintang bintang mulai muncul dan sangat cantik sekali. Lebih cantik daripada yang saya temukan di suatu malam di Pulau Sempu. Saya tidak membawa tripod, jadi saya memutuskan untuk menikmatinya hanya dengan mata. Oh ya, saya dan teman saya juga melihat bintang jatuh.
Malam yang dingin membuat saya urung berlama lama di luar. Sementara teman teman laki laki mulai berkumpul dan menghangatkan diri dengan merokok dan bernyanyi nyanyi. Sisa 6 orang perempuan karena tidak ada yang mau ikut bercengkrama di luar (so fucking cold!) kami memutuskan untuk segera bergelut dengan sleeping bag kami masing masing di dalam tenda.
Saya masih terjaga hingga pukul setengah sepuluh dan ikut mendengar pembicaraan teman teman laki laki di luar.

Minggu, 14 September 2014
Saya sudah terbangun sejak pukul sekitar pukul 3 atau 4 subuh karena kedinginan dan mendengar sayup sayup pendaki yang mau mengejar sunrise di puncak. Kami memutuskan untuk tidak ‘muncak’ se dini itu karena kekhawatiran akan gelap, capek, nanjak, dan beberapa yang memang masih first timer (seperti saya).
Saya orang yang pertama keluar dari tenda dan mulai sedikit demi sedikit menghangatkan diri. Saking dinginnya, terdapat lapisan es di tenda tenda kami. Oh ya, om saya dan temannya yang bertenda di dekat kami sudah mulai memasak, malah.


Pagi yang cantik di Surya Kencana

Sekitar pukul 6 teman teman satu persatu mulai bangun dan kami mulai memasak sambil menunggu matahari muncul. Pagi sangat dingin sekali. Menu pagi ini, karena diramalkan sudah tidak masak lagi sampai siang, kami memasak nasi banyak sekali, telur dadar bakso sosis, tumis, nugget, dan ada sumbangan dari om dan temannya yang sudah makan, berupa ayam dan sop.
Kami makan ber ramai ramai dalam satu gelaran panjang kertas minyak :)
Sekitar pukul 10 kami selesai berberes, bersiap untuk naik ke puncak. (Om saya dan temannya sudah duluan, tentu saja). Kelompok Bang Satria duluan kemudian kami susul. Saya masih satu pace dengan Epan dan Ucup. Perjalanan menuju puncak Gede cukup naik dan nafas memburu, kami yang ibarat mesin sudah dingin karena kemping semalam harus dipanaskan dengan tiba tiba.
Setelah berjalan kira kira satu jam, vegetasi mulai membuka, saya mulai bisa melihat Jawa Barat dari atas, terdengar teriakan dari atas, dan voila! Puncak! 2958mdpl!

View dari Puncak
Puncak Gede sendiri berupa tepian kawah yang dipagar (bukan hamparan luas) sehingga cukup ramai dan penuh. Dari puncak saya bisa melihat Jawa Barat, dan entah gunung apa di seberang sana, dan yang paling dekat (ada di sebelah) adalah Gunung Pangrango, yang terkenal karena Lembah Mandalawangi yang banyak didengar melalui puisi romantis karya Soe Hok Gie.

Kawah Gunung Gede
Gunung Pangrango dari Puncak Gunung Gede
Setelah berfoto foto sebentar dan menikmati puncak, kami memutuskan mulai berjalan turun sebelum siang dan dikhawatirkan sampai Basecamp terlalu malam. Kami tidak menargetkan Pangrango karena memerlukan energi ekstra (turun sedikit kemudian naik lagi, Pangrango sekitar 3000mdpl).
Kami kemudian berjalan turun sambil menikmati berjalan dengan awan di sisi kanan dan kiri kami. Kami turun ke arah Cibodas. Jalanan turun menurut saya terasa lebih berat karena banyak batu dan akar akar yang membuat saya beberapa kali terpeleset (bahkan sampai jatuh sedikit), kaki saya yang pendek membuat saya agak susah bertumpu.

Suasana Turun dari Puncak
Setelah sekitar 2 – 3 jam turun, kami berhenti di Kandang Badak sebentar sambil berkumpul. Kandang Badak adalah nama tempat peristirahatan (kemah) untuk pendaki yang naik dari arah Cibodas. Kemudian kami turun lagi sampai di Kandang Batu. Kami mendengar suara air dan kami yang mulai kelaparan memasak sisa sisa mie yang ada di Kandang Batu menggunakan air sungai tersebut.
Kami cepat cepat karena diburu waktu (sudah menunjukkan pukul 4), kami khawatir kalau harus trekking di malam hari. Setelah melewati Kandang Batu, kami melewati air terjun air panas (iya beneran panas, sampai keringatan), cukup seram buat saya sih, tapi seru! :D
Pada perjalanan pulang ini Epan yang memang kuat sekali (jarang beristirahat duduk) berjalan cukup cepat dan saya jadi satu pace dengan Ucup. Sampai akhirnya tersisa saya, Ucup, dan dibelakang kami ada Indah, Mufid, dan Mbak Lulu. Senja mulai turun. Beruntungnya, kami sudah melewati air terjun, dan tinggal melewati batuan batuan yang tidak ekstrim seperti di atas (sudah ditata), kami mulai menyalakan headlamp setelah kami melewati pertigaan pos (jalan sudah berupa jembatan dan batuan yang ditata membentuk semacam tangga).
Kira kira pukul enam atau pukul tujuh kami sampai di basecamp. Kami beristirahat melepas lelah dan bertemu dengan Bule, Aci, Epan yang sudah duluan. Oh ya rombongan Bang Sat juga sudah sampai dan mereka pamit pulang duluan. But, wait. Masih kurang 2 orang rupanya. Risa dan Fahmi. Kami memutuskan menunggu satu jam terlebih dahulu sambil kami beristirahat sebentar.
Hampir pukul delapan. Ucup sebagai ketua kelompok mulai resah dan memutuskan menyusul mereka kembali naik sedikit dengan Mufid. Mereka berdua naik lagi. Kami menunggu dibawah, saya tertidur sambil terkadang terbangun dan melihat keadaan.
Dan benar. Risa keseleo di tengah perjalanan. Ucup merasa miss karena mereka sudah di depan dengan Bule dan Acid dan menganggap kamilah yang terakhir. Beruntung mereka ditemukan pada titik poin 8 (kurang paham maksudnya, tapi selama turun ada titik titik berisi urutan angka angka yang semakin mendekat ke bawah semakin kecil) jadi tidak terlalu jauh dari basecamp. Sekitar pukul sembilan malam mereka baru sampai di bawah lagi.
Setelah mengkondisikan Risa dan Fahmi yang terlihat sangat kelelahan, kami berjalan sedikit kebawah untuk makan dan mencarter angkot sampai di pertigaan.
Malam sudah cukup larut. Saya sebenarnya mulai khawatir soal bus menuju Bandung. Tapi Alhamdulillah masih ada (walaupun tidak masuk Bandung). Kami berpisah di pertigaan, teman teman lain berpencar sesuai arah pulang masing masing.
Saya tiba di Bandung (di kos) kurang lebih pukul 2 dini hari dan saya harus kembali ke dunia nyata pukul 9 pagi.
Bonus; foto saya, diambil Minggu malam, terakhir mandi Jumat sore
still cute, huh? :3

Naik Gunung Gede merupakan pengalaman pertama saya naik gunung yang naik gunung. Bromo dan Krakatau tidak saya anggap ‘gunung’, Nglanggeran juga, kalau trekking pernah di Sempu juga. Tapi benar benar ini yang pertama buat saya.
Banyak sekali yang saya dapatkan dari pengalaman naik gunung ini. Yang mungkin akan saya tulis secara terpisah. Yang jelas, terimakasih buat teman teman, terutama Ucup yang sudah mengajak saya, dan saya yang dengan murahannya mengiyakan, buat yang sudah bantuin saya, dan semua mua nya.
Walaupun saya terlihat kecil, pendek, cengeng, lemah, dan atau manja, saya sebenarnya tough dan strong enough to do this, kok. Bisa dibilang saya ingin dan harus melakukannya lagi dan lagi. OMG! Yes, yes, I am!
Karena seperti yang Ucup bilang, Naik gunung itu masalah mental dan fisik. Mental yang kuat akan menguatkan fisik yang biasa biasa saja. Tapi mental  yang lemah, juga akan melemahkan fisik yang kuat.
Spesial terimakasih untuk Ucup, Epan, Mbak Anna, Mas Jalu, Indah, Bule, Aci, Mbak Lulu, Mufid, Risa, Fahmi, Geng 6 pria Bang-Sat, Om Amak, dan Mas Adi.


Anyway, prepare yourself, first!
FYI, my routine jogging and yoga does work!
check my instagram and also facebook to see more photos!

You Might Also Like

3 comments

  1. Udah sering kesini, tapi nggak sampe puncaknya. _-"

    Mandalawangi yang paling sering, sampe camping berkali2 disana. :D

    ReplyDelete