It's Been a Month

7:27:00 PM

Know that I can't go another day
Don't let all the colors fade away
(Yuna - Colors)

It’s been a month since the first time I met you.

Tepat satu bulan berlalu sejak pertama kali aku bertemu denganmu. Mata kita bertemu. Hai, sapamu basa-basi, sambil kita saling bersalaman dan tersenyum satu sama lain. And I wonder, what do you think about me at the first time our eyes met? Apa yang kamu pikirkan tentangku. What is my first impression to you? Is it good, or so so, or bad? Ribuan pertanyaan menghantam pikiranku hanya sepersekian detik saat kita pertama bertemu.

Pertemuan kita yang tidak pernah kita rencanakan bisa jadi adalah salah satu rencana besar dari Tuhan untuk kita. Kita berada di suatu komunitas dengan jumlah ribuan orang dan dengan ratusan kemungkinan yang ada. But then, we met. Nothing more or less.

It’s been a month since the first time we discuss about everything that we want.

Satu minggu kemudian adalah bagaimana kita dipaksa oleh semesta untuk saling bertatap muka dan berbincang. Berbincang tentang apa saja, sambil mengerjakan apa saja. We are completely stranger. The funny thing is, berbincang dengan orang yang benar-benar asing terkadang jauh terasa lebih nyaman. Berdiskusi, berbicara secara acak mengenai hal-hal yang sekiranya bermanfaat, maupun hal-hal dangkal untuk ditertawai. Tidak ada judging satu sama lain.

Aku tidak memahami latar belakangmu, tidak tahu makanan kesukaanmu, tidak mengerti kebiasaanmu. Apakah kamu suka tertidur di kelas ketika kamu masih sekolah dulu? Mana yang lebih kamu suka, teh atau kopi? Apa tokoh superhero favorit kamu? Apakah kamu punya adik atau kakak? Bahkan sesederhana usia, but then, age is just a number, right?

To sum up, I don’t even know you, by the way. Not yet.

Kemudian, mendadak semua berlalu. Sudah satu minggu.

It’s been a wrap since our very first met, and the universe have to separate us.
Satu minggu bersamamu terasa begitu cepat. Teori relativitas waktu bekerja dengan baik saat aku bersamamu. It may sounds cliche to you, but, I don’t know how to say anymore. Sore itu, dunia harus menyelesaikan tugasnya dengan baik dengan cara memaksa kita untuk berpisah.

Mungkin sore itu adalah saat yang tepat untuk kita berbincang lagi, membicarakan bagaimana ketepatan teori relativitas waktu. Di mana waktu berjalan relatif ketika kita bersama. Atau mungkin berbicara mengenai efektifitas. Bagaimana enam hari menjadi efektif untuk mendekatkan orang-orang yang asing. Berbicara sambil minum teh dan atau kopi, atau apapun kesukaanmu.

Don’t you think it’s funny, we only have 6 days to know to each other, yet we feel like we are closer than we think? We are still completely stranger to each other, but at the same time, we are already a bestfriend(s).

Perpisahan kita sore itu terjadi dengan kasual dan biasa. I want to hug you tight, actually. Namun berpisah dengan cara yang biasa adalah pilihan yang tepat. Pulang masing-masing, kembali pada rutinitasku, rutinitasmu, yang aku juga masih belum memahami betul apa itu. We say goodbye casually. Dengan berbagai harapan dan janji untuk bertemu lagi, entah secepatnya, atau entah kapan. But deep down in my heart, I knew that it will never be easy. Jika pertemuan kita tadi adalah salah satu bagian dari rencana dari Tuhan. Sebaliknya, perpisahan ini, adalah bagian dari rencana manusia.

Would you repeat this all over again? If you ask, I’ll say no.

It is what it is. Mungkin ada ratusan pertanyaan yang ingin ditanyakan namun tidak sempat. Bisa jadi ada ratusan pernyataan yang saat itu masih belum punya cukup nyali untuk menyatakan. Ada ribuan terima kasih yang tertahan, bersamaan dengan ribuan kata maaf yang mungkin masih terlalu ragu untuk disampaikan. It is what it is, dear.

It’s been a month since the first time I met you.

How was your day so far? Apakah kita masih sama dekatnya seperti kita pada satu minggu itu? Setelah kamu kembali pada hiruk-pikuk ibu kota, atau kembali pada kenyamanan rutinitasmu. Apakah kita masih sama dekatnya seperti kita pada satu minggu itu? Ketika kamu kembali pada teman-teman kantormu, dan aku pada teman-teman komunitasku. Apakah perbincangan kita selama satu minggu masih terasa hangat atau sudah menguap bersama musim kemarau yang tak kunjung lekas? You may say I'm such a selfish, but please tell me something that I want to hear. 

When was the last time you fall in love?

'Cause for me, it is when I’m with you.



Addina Faizati
Yuna - Colors // Tulus - Pamit // Tulus - Bumerang

ditulis dalam rangka satu bulan paska PK
ditujukan untuk 129 teman-teman baruku di Pinisi, PK-67

You Might Also Like

6 comments