Hubungan Jarak Jauh

By Addina Faizati - 12:05:00 AM


Pernah saya dapat chat dari Ibu saya di grup keluarga, kalau di rumah sepi, karena Bapak dan adik saya sedang keluar kota. That was hit me hard. Tapi tidak lama kemudian ada chat dari Bapak yang bilang kalau sudah sampai kota, dan hampir sampai rumah. Keluarga saya terdiri dari Bapak, Ibu, kakak perempuan, saya, adik laki-laki, dan tiga ekor kucing.

Anyway, just so you know, it is really weird for me to explain about my family. Salah satu teman terdekat saya pernah bilang, kalau saya termasuk tipe yang jarang menceritakan tentang keluarga saya. I think he was right. Bukan berarti saya tidak menyayangi mereka, tapi saya merasa kurang nyaman untuk menceritakannya kepada publik saja. That's it.

Sampai akhirnya, chat tadi, membuat saya sadar bahwa, I literally far away from them. Beberapa waktu lalu adalah ulang tahun Bapak, dan kebetulan Bapak sedang di Jakarta untuk dinas kantornya, kemudian beliau berkunjung ke rumah kakak saya sekaligus juga untuk bertemu dengan Kirana (anak kakak saya (cucu)). Mereka makan kue ulang tahun bersama.

Saya jauh dalam konteks waktu dan tempat. Saya sendiri merasakan bahwa hubungan jarak jauh itu memang sucks. Hubungan dalam artian, hubungan keluarga, pertemanan, atau apapun. You may say; ah kan ada telepon, ada video call, ada chat, ada skype, dsb dsb. Yes it is. I knew it.

But, kedekatan sebuah hubungan yang berada di satu kota tentu akan berbeda dengan yang berbeda jarak dan waktu. No? Sebagai contoh, saya mengakui saya memang bukan tipe orang yang suka telepon, menelepon, dan atau video call, saya merasa hal-hal tersebut cukup demanding buat saya. Saya lebih memilih chat, karena semua bisa dipikirkan dan dipahami. Ya walaupun tidak semua kasus bisa diselesaikan dengan text messages sih. But, at least for me, it is more comfortable.

Thus, sedikit banyak mempengaruhi pola berkomunikasi saya dengan beberapa teman. I wrote about this before; About Home. But this, I will talk about a relationship. Dalam hal ini, bisa dalam hubungan apa saja. Dalam suatu hubungan, ada beberapa faktor yang bisa mendekatkan dan atau menjauhkan ikatan tersebut. Salah satu faktornya adalah jarak.

And I'm that kind of person that believes in that 'distance' factor. Jarak di sini pun bisa bermakna macam-macam. Jarak literally kilometer, lokasi, pulau, negara, atau benua. Jarak waktu. Bahkan jarak dalam artian keuangan, pemahaman, dan fase dalam kehidupan. No?

Saya membayangkan, sebuah diskusi, atau percakapan, di tengah perbedaan lokasi, perbedaan waktu, dan perbedaan pemahaman masing-masing individu terhadap sesuatu. It could be difficult. It could be that difficult, I bet. Saya merasakan sendiri bahwa distance does matter, yes it is. Mungkin saat ini akan sulit bagi saya untuk menjaga komunikasi dengan teman yang berada di Indonesia, not because I don't want to, but, apakah saya harus memaksakan diri untuk berusaha 'bergabung' dengan mereka di setiap waktu mereka bertemu, atau berkumpul?

I can not do that. We are all can't do that. Apa kemudian bisa saya, mencegah teman-teman yang berkumpul tanpa saya untuk tidak berbicara dan saling meng-update kehidupan? Agar 'jarak' itu tidak semakin nyata? No? Semakin banyak mereka bertemu, which I can not afford to meet, just because of the distance, saya tidak bisa mengetahui tempat makan favorit mereka, saya tidak bisa menjadi bagian dari hal-hal favorit mereka di kota mereka, dan begitu juga sebaliknya.

Jarak kedua, waktu. Saya dan salah satu teman dekat saya, mempunyai masalah dalam hal komunikasi, selisih waktu 6 jam ternyata cukup 'merepotkan' kami untuk mencari waktu berbincang like how we used to. I want to share everything, but we can't do it. It will be easier for me to find a person, or people, 'near' me so I can tell him/her/them everything in the real-time, No? 

Kadang-kadangpun saya pun harus menunda sebuah diskusi, atau percakapan di sebuah grup, because I realised the 'distance' of the time. Tidak semua orang berada pada posisi yang sama untuk menjawab diskusi yang saya buka. Probably I can't share the witty jokes when they are working, or vice versa.

Hal-hal vital seperti tadi akan lebih rumit jika jarak itu tidak hanya berupa lokasi dan waktu, namun juga pola pemahaman ataupun fase kehidupan. I have that distance to my friends who married already. They have different goals, different things to achieve. Begitupun dengan teman-teman yang sudah memiliki anak. We have different problems and different things to take care about. Jarak dalam pemahaman ini yang mungkin membuat jarak yang terbentuk itu semakin jauh.

Other than that, tidak bisa dipungkiri, uang juga menjadi salah satu faktor jarak. I can't be someone that I can't afford. No? I don't know if we need any explanation for this 'distance', but. It is true. Kenapa saya masih belum bisa berteman dengan Chiara Ferragni? Okay, this is too extreme, but, simply because manusia akan memilih berinteraksi dengan orang-orang yang somehow mereka anggap setara.

But that doesn't mean that we, as a human being, can't be friend with everybody. But, the distance is still there. Buat saya, komitmen untuk menjaga sebuah hubungan dengan jarak jauh adalah salah satu komitmen yang patut diacungi jempol. Saya sendiri mungkin bukan orang yang cukup tekun untuk memaintain semua itu. I was, back then. I honestly would like to tell you everything, but I don't know if the story will be better if someday, somewhere, we could meet, grab a coffee, and talk about everything. But. The distance is there.

However, when we talk about family in the first paragraph, saya merasa keluarga saya adalah tempat saya berbagi cerita yang tentunya akan berbeda mengenai apa dan seperti apanya jika dibandingkan dengan kelompok pertemanan lain. But since I can't touch them by now, saya akan memilih bercerita kepada teman, atau pacar, yang secara real time akan ada saat itu so that they can help me meanwhile my family couldn't, because of the distance. I think it's okay, because, in the end, toh you will go back to them. Atau pembenaran lainnya, dan saya yakin, teman-teman paham, kita tidak bisa menceritakan masalah itu secara langsung kepada orang tua, in order not to make them worry about us, bisa jadi saya akan lebih memilih menceritakan setelah saya lebih tenang dan bisa lebih berpikir, supaya tidak menambah beban pikiran mereka.

Pada akhirnya, mungkin orang yang sering kamu ceritakan tentang kehidupan kuliah, adalah orang terdekat (real time), dengan pola pemikiran yang sekiranya memahami kehidupan kuliahmu. Orang yang menjadi tempat berbagi permasalahan kota tempat kamu tinggal, ya orang yang tinggal di kota tempat kamu tinggal. And so on and so on.

You need people to talk to. And it's okay to not tell anything about everything to that person. It's okay to differentiate person, or group, for specific topics or problems of your life. Because not everybody could understand that particular topic of you, of your life.

Now I realise that we, as a human being, need a person, need people, or even pets to touch. We need real interaction to help us to get through our difficult time. The older you get, the more you know that the distance is getting further each day. In every possible context. 


No?
Addina Faizati
Milan, 2018

PS: Just so you know, saya tidak sedang dalam hubungan romantis jarak jauh, hubungan jarak jauh saya adalah pertemanan dan keluarga. 

  • Share:

You Might Also Like

2 comments

  1. Addinaaa, aku suka banget sama tulisan ini. Pas banget aku belakangan ini lagi kepikiran terus tentang betapa sucks nya LDR dan baca tulisan ini jadi bisa sangat relate semuamuanya. And at the same time bikin aku lebih tenang karena seperti merasa ada temen seperjuangan hehe. Thanks for writing this! :)

    ReplyDelete